Jelajah Sepeda Jakarta Palembang Etape V, Tanjakan Meo Menghadang

Setelah melalui etape terpanjang hingga malam hari pada etape IV, tim JSJP melanjutkan perjalanannya menuju Tanjung Enim, yang merupakan daerah pertambangan batubara yang dikelola oleh PT Bukit Asam. Jarak yang ditempuh hanya 100 km, tetapi kontur yang dilewati tetap memiliki turunan dan tanjakan layaknya jalur di pulau Sumatera yang memang memang dilalui oleh bukit barisan.

Perjalanan etape V dimulai pada pukul 8 pagi. Lebih siang dari biasanya untuk memberikan waktu istirahat yang pebih lama setelah melalui etape panjang. Pagi itu langit tampak berwarna biru cerah menyambut kehadiran tim JSJP. Jalan rolling naik turun dan sinar matahari yang besinar terang menguras tenaga tim JSJP. Jalan meliuk-liuk serta pemandangan sekitarlah yang memberikan sedikit kesejukan bagi tim JSJP. Etape V menuju Tanjung Enim memang melalui perbukitan serta hutan di kiri-kanan. Tapi sayang, beberapa bukit terlihat gundul, entah karena memang sengaja untuk dijadikan bangunan atau karena hal lainnya.

Langit biru sepanjang perjalanan etape V

Sebelum masuk ke Tanjung Agung untuk beristirahat makan siang, tim JSJP dihadang tanjakan panjang yang sangat menguras tenaga. Ya, tim JSJP melalui tanjakan simpang Meo yang memang terkenal di wilayah Muara Enim dan sekitarnya. Di tanjakan simpang Meo ini beberapa anggota tim JSJP tampak kewalahan dan membutuhkan bantuan dorongan dari rekan lainnya. Bahkan tim support dari komunitas sepeda motor Honda Tiger Club Indonesia (HTCI) yang selama ini bertugas memberikan bantuan logistik, tampak sibuk bolak-balik memberikan dorongan atau tarikan agar beberapa anggota tim JSJP dapat mengatasi tanjakan dengan cepat. Satu persatu anggota tim JSJP merayap perlahan-lahan di tanjakan simpang Meo sementara beberapa anggota tim yang jauh tertinggal dengan segera diberikan bantuan agar tidak terpisah dengan rombongan.

Profil etape V dengan tanjakan simpang Meo

Dibalik tanjakan simpang Meo tentu menghadirkan bonus tersendiri berupa turnan berkelok-kelok dan cukup panjang. Bagi anggota tim JSJP yang memiliki jarak dengan rombongan depan tentu hal ini menjadi bonus besar bagi mereka karena dapat melaju kencang meliuk-liuk di tengah jalan aspal mulus yang membelah hutan. 60-70 km/jam dapat dicapai memanfaatkan gaya gravitasi serta kayuhan pedal dengan gigi paling berat. Tetapi tingkat kewaspadaan tetap harus dijaga karena medan yang belum dikkuasai serta beberapa jalan rusak menghadang di depan. Alasan itulah yang membuat salah satu anggota tim JSJP akhirnya harus di evakuasi setelah melalui tanjakan simpang Meo. Kondisi fisik yang terlalu lelah dapat membahayakan saat melalui turunan.

Pukul 12.20 akhirnya tim JSJP tiba di pemukiman penduduk Tanjung Agung, tempat Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) mengadakan sunatan massal bagi penduduk setempat. Jalan yang sempit serta padatnya rumah-rumah penduduk sempat mebuat arus lalu-lintas kendaraan tersendat. Tim JSJP pun beristirahat diantara rumah penduduk, bahkan di teras rumah penduduk. Rumah kepala desapun menjadi salah satu tempat meneduh, bahkan menjadi dapur umum tempat memasak air panas untuk membuat minuman kopi maupun teh hangat.

Pukul 2 siang, tim JSJP kembali melanjutkan perjalanan ke PT Bukit Asam, Tanjung Enim. Mulai dari Tanjung Agung ini tim JSJP ditemani oleh beberapa pesepeda Muara Enim. Mereka menemani tim JSJP sampai ke Palembang. Beberapa tanjakan kecil masih mewarnai perjalanan menuju kantor PT Bukit Asam di Tanjung Enim.

Di kantor Bukit Asam tim JSJP disambut dengan meriah oleh karyawan, anak sekolah serta masyarakat sekitar. Yang mengejutkan kedatangan tim JSJP di Bukit Asam juga disambut oleh tarian reog Ponorogo dari kelompok tari watu ireng. Watu ireng ini memang salah satu kegiatan yang berada dibawah binaan Bukit Asam. Tak berhenti sampai disitu, tim JSJP juga sempat diajak ke salah satu tambang batubara yang berada diarea Bukit Asam.

Tim JSJP melihat-lihat lokasi tambang batubara Bukit Asam

Jamuan Bukit Asam tidak berhenti sebatas penyambutan kedatangan tim JSJP. Saat malam tibapun mereka, yang memang merupakan sponsor utama dalam kegiatan jelajah sepeda Jakarta Palembang, memberikan jamuan makan malam diiringi oleh salah satu band binaan mereka. Tak berhenti sebatas makam malam, malam itu sebagian besar anggota tim JSJP menikmati keramahan Bukit Asam dengan bergoyang bersama menikmati alunan lagu yang dibawakan sebelum diakhiri dengan menyanyi bersama-sama, mempererat rasa persaudaraan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s