Jelajah Sepeda Jakarta Palembang Etape VI, Rute Terpanas

Pagi itu, 8 November 2011, setelah sarapan di mess hall Bukit Asam, tim JSJP segera menuju perkantoran Bukti Asam untuk menjalani etape VI Tanjung Enim – Prabumulih sejauh 105 km. Etape kali ini tidak seberat sebelumnya, bahkan bisa dibilang merupakan etape untuk melakukan recovery. Seperti pada saat kedatangan tim JSJP ke Bukit Asam, keberangkatan tim JSJP pun dibanjiri masyarakat sekitar terutama karyawan Bukit Asam serta murid-murid sekolah menengah pertama. Mereka memang secara khusus diminta untuk memberi semangat kepada tim JSJP agar dapat menyelesaikan etape VI ini dengan baik. Sebagian anggota tim JSJP pun terlihat menggoyang-goyangkan tubuhnya seirama lagu yang berkumandang di tempat start. Goyangan itupun menjadi hiburan tidak hanya buat anggota lainnya tetapi juga bagi anak-anak yang berdiri berdesakan di kanan tim JSJP.

Pukul 7.30 pagi timJSJP akhirnya dilepas menuju Prabumulih. 14 orang anggota komunitas sepeda Muara Enimpun turut dalam rombongan, tetapi mereka ditempatkan di belakang tim JSJP agar tidak mengganggu ritme kayuhan tim JSJP dan mengurangi resiko kecelakaan akibat belum padunya gerak tubuh tim JSJP dengan mereka. 30 km pertama dilalui tim JSJP dengan santai. Kecepatan kayuhan sepedapun hanya berkisar 20-22 km/jam. Setelah beristirahat sekitar 1 jam sambil memberi kesempatan bagi kendaraan di belakang yang tertahan rombongan, tim JSJP kembali menaiki sepedanya menuju check point berikut, tempat istirahat makan siang. Kali ini kayuhan tim JSJP lebih cepat dari sebelumnya, 28 km/jam. Cuaca cerah dan panas pada etape VI ini serta kecepatan kayuhan tim JSJPternyata tidak sanggup diimbangi oleh beberapa anggota komunitas Muara Enim. 8 orang terpaksa dievakuasi sebelum istirahat makan siang, bahkan tinggal 4 orang saja yang bersepeda saat tim JSJP memasuki garis finish di hotel Gran Nikita, Prabumulih.

Menuju Prabumulih, jalanan yang dilalui mulai tidak bersahabat. Bukan karena tanjakan tetapi karena banyak sekali lubang-lubang yang terbentuk di jalanan. Beberapa kali tim JSJP terpaksa mengambil jalan paling kanan. Untunglah di depan tim JSJP terdapat mobil patroli pengawalan dari kepolisian sehingga arus kendaraan dari arah berlawanan dapat ditahan sejenak.

Sebelum pukul 3 sore, tim JSJP sudah memasuki kota Prabumulih. Kali ini tak ada sambutan dari masyarakat sekitar. Pasar atau tepatnya pertokoan di kanan kiri pun tampak sepi. Ya, mungkin begitulah kehidupan di kota besar, berbeda dengan pemukiman-pemukiman kecil yang telah dilalui tim JSJP.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s